Pembuatan Alat Ukur Kualitas Kepemimpinan Untuk Organisasi

folder_openWhite Paper

Kepemimpinan merupakan aspek penting dalam pengembangan organisasi. Kepemimpinan berbicara mengenai kemampuan untuk mempengaruhi dan kemampuan untuk menentukan target. Kualitas seorang pemimpin yang baik sangat dipengaruhi oleh kebudayaan. Budaya yang berbeda memerlukan pemimpin dengan kualitas yang berbeda. Contohnya gaya kepemimpinan partisipatif sangat dihargai di Amerika sedangkan gaya kepemimpinan authoritarian berlandaskan nilai suku dan keluarga lebih disukai di Arab. Oleh karena itu, kecocokan antara budaya dan kualitas pemimpin perlu diperhatikan. Melalui tulisan ini, Freshminds akan menjabarkan mengenai bagaimana membuat alat ukur kualitas kepemimpinan dalam sebuah organisasi.

Menyusun Alat Ukur Kepemimpinan Berdasarkan Teori Kepemimpinan

Alat ukur ini disusun dengan mengkaji tiga teori kepemimpinan. Penelitian Global Leadership and Organizational Behavior Effectiveness (GLOBE) digunakan untuk menyesuaikan gaya kepemimpinan dengan budaya setempat. Model Korn Ferry Assessment of Leadership digunakan untuk membahas peran pemimpin dalam transformasi organisasi. American Healthcare Executive Competencies Assessment Tool digunakan untuk membahas kepemimpinan dalam industri healthcare.

Penelitian GLOBE dilakukan di 62 negara untuk melihat nilai-nilai kepemimpinan dominan. Penelitian tersebut menghasilkan 112 karakteristik kepemimpinan yang dikelompokkan ke dalam 6 dimensi/cluster. Keenam  cluster tersebut adalah charismatic/value-based (C/V-B), team oriented (TO), participative (P), Human Oriented (HO), autonomous (A), dan self-protective (SP).

Pemimpin yang charismatic/value based (C/V-B) merupakan pemimpin yang dapat menginspirasi, memotivasi, serta tetap memegang teguh nilai-nilai organisasi. Pemimpin seperti ini memiliki sifat visioner, mau mengorbankan diri untuk kepentingan organisasi, berintegritas tinggi, dan berorientasi pada performa.

Pemimpin yang berorientasi pada tim (team oriented) dapat membangun tim yang bekerja secara efektif dan memimpin mereka untuk mencapai target. Pemimpin ini merupakan individu yang diplomatis, dapat menghubungkan anggota-anggota dari setiap tim, dan kompetensi secara administratif.

Jenis kepemimpinan selanjutnya adalah pemimpin participative. Pemimpin participative akan melibatkan bawahannya ketika mengambil dan mengimplementasikan keputusan. Bertolak belakang dengan pemimpin participative, pemimpin autonomous memiliki sifat yang lebih mandiri dan individualis.

Pemimpin yang human oriented biasanya suportif, penuh belas kasih, dan berempati pada bawahannya. Pemimpin ini sangat memperhatikan kesejahteraan bawahan. Pemimpin self-protective juga memberikan perhatian kepada bawahannya, namun dalam bentuk yang berbeda. Para pemimpin self-protective sangat melindungi dan mengutamakan keamanan kelompoknya.

Berdasarkan penelitian tersebut, dimensi charismatic/value-based (C/V-B), team oriented (TO), dan Human Oriented (HO) efektif untuk budaya Indonesia. Pemimpin yang menginspirasi bawahan, memegang nilai-nilai organisasi, mengembangkan tim agar cepat mencapai target, dan memiliki kelembutan hati lebih disukai di Indonesia.

Korn Ferry Assessment of Leadership Potential (KFALP) mengukur kapasitas dan keinginan seseorang untuk mengembangkan kualitas yang dibutuhkan untuk menampilkan performa yang efektif sebagai seorang pemimpin ketika menghadapi tantangan. Alat ukur ini fokus pada empat dimensi, yaitu drivers (dorongan) dan traits (Kepribadian) yang menggambarkan “siapa dirimu” serta experiences (pengalaman) dan competencies (kompetensi) yang menggambarkan “apa yang kamu lakukan”. Konsep KFALP sejalan dengan konsep Excellence Leadership dari perusahaan.

American Healthcare Executive Competencies Assessment Tool (AHECAT) banyak digunakan oleh perusahaan medis untuk menilai kemampuan memimpin para eksekutif. Alat ukur ini dapat mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan sehingga dapat dijadikan landasan untuk program pengembangan lebih lanjut. Lima dimensi yang diukur oleh alat ukur ini adalah communication and relationship management, professionalism, leadership, knowledge of the healthcare environment, business skills and knowledge

Communication and relationship management merupakan kemampuan berkomunikasi dengan jelas dengan pihak internal maupun eksternal. Individu dengan communication dan relationship management yang tinggi mampu membangun dan menjaga hubungan antar individu maupun tim. Leadership diartikan sebagai kemampuan untuk menginspirasi orang lain dan menjunjung visi organisasi. Individu dengan leadership tinggi mampu mengatur perubahan sehingga berdampak pada kesuksesan organisasi.

Professionalism adalah kemampuan untuk bekerja sesuai dengan kode etik dan standar profesionalitas. Individu yang profesional biasanya berorientasi pada pelayanan prima dan berkomitmen untuk terus belajar. Knowledge of the Healthcare Environment, sebagai pemimpin organisasi kesehatan tentu harus menguasai pengetahuan mengenai sistem pelayanan kesehatan. Pemimpin organisasi harus memiliki Business skills and knowledge yang baik. Pemimpin dituntut untuk dapat mengaplikasikan prinsip-prinsip dan teori bisnis, termasuk berpikir secara sistematis dan komprehensif.

Teori utama yang digunakan adalah pendekatan GLOBE. Pendekatan ini dipilih karena karakteristik kepemimpinan pada Project Globe lebih komprehensif dan dapat mewakili karakteristik yang ada pada model lain. Selain itu, pendekatan Globe Project memiliki cakupan yang luas dan sudah pernah diaplikasikan di Indonesia, sehingga variabel ketidakcocokan antara teori dan konteks sudah terkontrol. Sedangkan teori KFALP dan AHECAT digunakan sebagai teori pendukung.

Metode yang dapat digunakan

Alat ukur melalui beberapa tahap penyusunan yang meliputi tahap alignment, rancangan awal, seleksi item indeks kepemimpinan, dan finalisasi item. Pembuatan alat ukur dimulai dengan tahap alignment, penyamaan pemahaman tentang gambaran karakteristik kepemimpinan antara Freshminds dan organisasi terkait. Pada tahap ini organisasi dapat menjelaskan teori, metodologi dan tools yang akan aplikasikan.

Setelah itu, proses dilanjutkan dengan membuat rancangan awal item. Pada rancangan awal ini, item dibuat menyesuaikan dengan 112 karakteristik GLOBE Project. Organisasi dapat memilih beberapa karakteristik seperti cluster charismatic, human oriented, self-protective, dan team oriented untuk digunakan atau karakteristik lain jika dianggap paling cocok dengan nilai organisasi. Pada proses seleksi item, seleksi dilakukan dengan penilaian internal dari tim dan penilaian dari organisasi. Berdasarkan hasil penilaian, diperoleh 40 indikator yang memiliki nilai tinggi. Item-item tersebut ditinjau kembali dan akhirnya diperoleh 32 indikator.Pada tahap finalisasi, 32 indikator tersebut dikelompokkan ke cluster baru yang menunjang 5E fungsi kepemimpinan, execute, enable, energize, engage, dan envision

Setelah menyelesaikan tahap penetapan indikator, organisasi dapat mulai merancang kuesioner. Responden memberikan penilaian dengan merespon pernyataan-pernyataan. Pada setiap pernyataan responden diminta untuk memilih skor 1 – 10 untuk menilai. Tim membuat dua form kuesioner, A dan B. Form A merupakan penilaian dari atasan dan form B merupakan penilaian dari bawahan. Kuesioner kemudian direviu organisasi dan diujicobakan. Setelah diuji coba, kuesioner terbukti valid dan reliabel. Tim juga membuat norma sebagai perbandingan.

Setiap individu akan mendapatkan dua skor (skor dari form A dan B). Skor dari form A memiliki bobot 30% dan skor dari form B memiliki bobot 70%. Kemudian skor form A dan B dijumlah menjadi skor akhir. Skor akhir kemudian dibandingkan dengan norma. 

Tantangan dan Alternatif Solusi

Tantangan umum yang seringkali dihadapi yaitu ketika mengkaji teori dan menentukan teori yang akan digunakan. Ketika menentukan teori, organisasi perlu mempertimbangkan isi dari teori dan juga kecocokan teori dengan budaya. Sebagai contoh, teori yang dipilih untuk menjadi teori utama adalah model GLOBE Project. GLOBE Project dipilih karena dimensi-dimensi pada teori ini sudah mewakili teori-teori lain dan bersifat universal. Terlebih lagi, Globe Project pernah diujikan di Indonesia dan hasilnya dimensi charismatic, team oriented, dan human oriented cocok untuk budaya Indonesia.

Related Posts

Menu
Hartono Zhuang
Direktur

Freshminds Indonesia was started by Hartono Zhuang that supported from various expertise. Freshminds was established in Singapore since 2006. Operates mainly in Indonesia, with some foreign clients in Japan (2007-2012). 

Hartono Zhuang is a Chemical Engineering Institute of Bandung cum laude graduate in 1997 and a Master of Business Administration (MBA) of National University of Singapore as well as Lausanne University Switzerland in 2002.

Hartono Zhuang’s experiences before starting Freshminds Indonesia:
• AXA Financial Services Singapore
• Strategic Sourcing Specialist RGM Group Singapore
• Health & Safety Manager Procter and Gamble (P&G)
• Production Manager Procter and Gamble (P&G)
• Dow Chemical
• Certified Professional in Learning and Performance  (CPLP from ATD in 2015)