Megatrend Global

folder_openWhite Paper

Penelitian mengenai Learning Trends pada dunia profesional secara rutin telah dilakukan di berbagai institusi setiap tahhunnya. Salah satunya konsultan dari Amerika serikat yaitu Boston Consulting Group (BCG), pada tahun 2019 melakukan penelitian mengenai tren pada perubahan tenaga kerja serta skill apa saja yang mungkin dibutuhkan oleh para tenaga kerja kedepannya. Penelitian ini dilakukan pada 366.000 partisipan di 197 negara.

BCG menyebutkan bahwa penelitian ini merupakan sebuah “Megatrend Global” di tenaga kerja profesional. Seperti halnya kata “Mega”, mungkin kata tersebut membuat kita cukup penasaran, mengingat arti dari kata “Mega” adalah “Mahabesar” atau suatu hal yang sangat besar. Jadi apa ya yang disebut “Megatrend” disini? Megatrend Global disini rupanya adalah perubahan teknologi dan globalisasi. Penelitian ini juga menangkap respon para responden melalui dua hal yang sedang populer yakni Upskilling dan Reskilling. Upskilling diartikan sebagai mempelajari sebuah skill/kemampuan baru untuk posisi pada pekerjaannya yang sekarang. Sedangkan Reskilling adalah mempelajari sebuah skill/kemampuan baru untuk mengerjakan posisi yang sama sekali berbeda dengan pekerjaannya yang sekarang.

Penelitian ini menangkap bahwa 61% dari responden percaya bahwa Megatrend tersebut akan mempengaruhi pekerjaan mereka sekarang. Selanjutnya penelitian ini mencoba untuk menelisik lebih dalam lagi dampak perilaku berdasarkan kepercayaan tersebut. Telah didapatkan data bahwa kepercayaan Megatrend akan mempengaruhi pekerjaan responden, diikuti dengan kemauan meluangkan waktu untuk belajar skill yang baru. Berikut merupakan ilustrasi (Gambar 1) hasil penelitian yang didapatkan :

Gambar 1 Matrix Megatren vs Learning Hours

Gambar di atas merupakan matriks perbandingan sikap/kepercayaan terhadap Megatren dengan durasi waktu yang dihabiskan untuk belajar. Penelitian ini membagi menjadi 4 kuadran berdasarkan matriks tersebut yakni :

a. Intrinsic Learners :
Responden pada kategori ini adalah responden yang tidak mempercayai bahwa Megatren akan mempengaruhi pekerjaan mereka, namun waktu yang dihabiskan untuk belajar tetap tinggi, bahkan lebih dari rata-rata. Mereka menghabiskan waktu untuk belajar dengan tujuan untuk mengembangkan diri. Responden terbanyak pada kategori ini adalah Cina dan Vietnam.

b. Bystanders :
Responden yang ada di dalam kategori ini adalah responden yang tidak mempercayai bahwa Megatren akan mempengaruhi pekerjaan mereka dan hal tersebut membuat mereka memiliki jam belajar yang juga rendah dibandingkan responden lain. Responden yang ada di dalam kategori ini berasal dari beberapa negara seperti Belgia, Perancis, Austria, Amerika Serikat dan Kanada.

c. Proactive Adapters :
Responden yang ada di dalam kategori ini adalah responden yang sangat mempercayai bahwa Megatren akan mempengaruhi pekerjaan mereka sehingga waktu yang mereka habiskan untuk belajar juga menjadi semakin tinggi demi mempersiapkan diri pada tren tersebut. Responden tertinggi pada kategori ini adalah Kenya, Brazil dan Nigeria.

d. Hesitators :
Sesuai dengan namanya “Hesitate” yang berarti meragukan, responden pada kategori ini percaya bahwa Megatren akan mempengaruhi pekerjaan mereka namun mereka memiliki waktu belajar yang rendah. Responden pada kategori ini cenderung berperilaku “wait and see”, yakni menunggu dan mengamati dulu perkembangan tren yang ada baru nantinya akan bertindak. Responden pada kategori ini kebanyakan adalah negara dari Eropa Barat salah satunya Jerman.

Mungkin Anda penasaran. Lalu, di manakah posisi Indonesia?

Rupanya Indonesia berada di kategori Proactive Adapters, namun jika dilihat pada matriks, Indonesia berada hampir di garis peralihan dengan kategori Hesitators. Mungkin ada pertanyaan lanjutan lagi di benak Anda, dimana ya posisi Indonesia apabila dibandingkan dengan negara lain berdasarkan Learning hours? Menurut penelitian ini, persentase learning hours Indonesia adalah 64% sedangkan rata-rata global adalah 65%. Learning hours tertinggi di dunia adalah negara tetangga kita di Asia Tenggara yaitu Myanmar (87%), sedangkan di posisi kedua adalah Nigeria (84%) dan diikuti oleh Cina (81%). Persentase ini didapatkan berdasarkan jumlah responden yang menghabiskan beberapa minggu per tahun untuk belajar (lihat Gambar 2).

Gambar 2 Persentase Learning Hours

Persepsi kita sebagai orang Indonesia ini pasti sangat beragam, bisa kaget, bisa pesimis atau juga bisa “ya saya tidak kaget” melihat datanya. Learning hours mungkin bukan menjadi penentu utama kesuksesan bagi kita yang bekerja. Di dalam penelitian ini Learning Hours adalah cerminan respon dan sikap kita sebagai individu atau pun perusahaan dalam menghadapi “Megatrend Global” yang selalu datang dengan cepat. Meski, kita tidak tahu apakah memang benar Megatren tersebut berdampak pada kita atau tidak, tapi sebaiknya kita bersiap-siap kan?

“Meski saya menghabiskan setidaknya 1 jam per hari untuk belajar sesuatu yang tidak relevan saat ini, saya yakin apa yang saya pelajari sekarang pasti akan relevan/berguna bagi saya di masa mendatang”. – Kutipan Responden (28)

Referensi :
https://image-src.bcg.com/Images/BCG-Decoding-Global-Trends-in-Upskilling-and-Reskilling-Nov-2019-Rev_tcm9-234120.pdf

Related Posts

Menu